Serahkan DPA 2026, Bupati Serang Ratu Zakiyah Dorong OPD Target 100 Hari Kerja
Regional
Redaksi
Trending
M. Ishom el Saha
Kukerta mahasiswa di lingkungan lingkar kampus sangat penting dilakukan. Bukan hanya karena alasan efisiensi, tetapi yang lebih utama ialah transformasi masyarakat khususnya di lingkungan universitas yang mengembangkan kampus baru.
Kampus baru umumnya dibangun di wilayah pinggiran kota yang demografinya belum padat. Masyarakatnya homogen, pola hidupnya masih sederhana dan tradisional.
Tatkala di tengah-tengah mereka hadir kampus baru dan civitas akademika dalam jumlah besar maka diperlukan penyesuaian baru supaya terwujud lingkungan yang harmonis, baik untuk masyarakat asli maupun yang baru datang.
Program Kukerta lingkar kampus lebih tepat disebut strategi transformasi sosial daripada rekayasa sosial. Dalam transformasi sosial semua elemen terlibat aktif. Tidak ada yang lebih dominan menjadi aktor dan menjadi objek seperti dalam rekayasa sosial.
Transformasi sosial sangat penting dilakukan dan memerlukan kepeloporan civitas akademika. Hal ini dikarenakan kampus memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitarnya, dan Kukerta menjadi sarana membangun hubungan yang harmonis.
Kukerta lingkar kampus dapat menjadi sarana
mahasiswa untuk dapat menerapkan ilmu dan keterampilan akademik dalam konteks nyata yang dekat dengan mereka.
Ditambah dengan kebijakan efisiensi seperti sekarang, maka lokasi Kukerta yang dekat memudahkan koordinasi, mengurangi biaya transportasi, dan mempercepat respons terhadap kebutuhan masyarakat. Begitu pun dosen pembimbing dapat lebih mudah memantau dan mengevaluasi pelaksanaan Kukerta.
Ada beberapa model yang bisa diimplementasikan dalam Kukerta lingkar kampus: Pertama, Model Tematik. Mahasiswa melakukan Kukerta berdasarkan tema tertentu seperti: penguatan kesadaran hukum masyara, Penguatan Ketahanan Keluarga Sakinah, Pengelolaan eco-teologi, Pemberdayaan UMKM dan produk halal, Literasi digital dan pendidikan anak, Ketahanan pangan lokal.
Kedua, Model interdisipliner. Mahasiswa dari berbagai program studi digabungkan untuk menyelesaikan isu secara holistik. misalnya: mahasiswa syariah, ekonomi dan bisnis syariah, tarbiyah, ushuluddin, dakwah, dan Saintek Ekonomi, bekerja sama dalam membangun sistem informasi masyarakat lingkar kampus.
Ketiga, Model Berbasis Proyek. Mahasiswa merancang dan melaksanakan proyek nyata, seperti: Pembuatan taman komunitas, Pelatihan keterampilan digital untuk warga, Revitalisasi ruang publik, dan lain lain.
Efisiensi tentu berpengaruh dalam menyusun strategi pelaksanaan Kukerta sebagaimana yang biasa dilakukan. Dalam konteks Kukerta lingkar kampus, kegiatan pra-Kukerta mahasiswa cukup mendapatkan pengarahan dosen pembimbing di dalam kampus secara luring maupun daring.
Kegiatan pra-Kukerta meliputi survei kebutuhan masyarakat sekitar kampus. Pembentukan kelompok interdisipliner. Penyusunan proposal dan rencana kerja. Semua dapat dilakukan di kampus.
Pada saat pelaksanaan Kukerta lingkar kampus, mahasiswa dituntut berkoordinasi rutin dengan tokoh masyarakat setempat. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dengan melibatkan warga dalam kegiatan. Untuk memudahkan nonitoring, mahasiswa mendokumentasikan kegiatan harian untuk laporan harian maupun laporan akhir kegiatan.
Sesudah pelaksanaan Kukerta, mahasiswa membuat laporan hasil kegiatan dan evaluasi program untuk diresentasikan kepada masyarakat dan kampus. Hal ini supaya ada tindak lanjut program yang bisa dijalankan oleh komunitas masyarakat di sekitar kampus atau mahasiswa Kukerta angkatan selanjutnya.