CILEGON — Komitmen SMAS Al Ma’arif Cilegon dalam membangun budaya literasi kembali diwujudkan melalui peluncuran buku antologi cerpen Anemoon yang ditulis oleh guru dan siswa. Peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara pelepasan siswa kelas XII yang digelar pada Sabtu (20/6/2026).
Launching Buku dan Apresiasi Karya Bersama Duta Baca Provinsi Banten
Kehadiran Anemoon menjadi pencapaian tersendiri bagi sekolah. Pasalnya, buku ini merupakan karya kedua yang berhasil diterbitkan melalui program Gerakan Literasi Berkarya, setelah sebelumnya sekolah menerbitkan buku perdana pada tahun 2025. Konsistensi tersebut menunjukkan bahwa gerakan literasi di sekolah tidak berhenti pada kegiatan membaca dan menulis semata, tetapi telah berkembang menjadi ruang lahirnya karya nyata.
Buku Anemoon ditulis oleh 10 siswa dan 2 guru SMAS Al Ma’arif Cilegon. Melalui berbagai cerita yang tersaji, para penulis menghadirkan refleksi, imajinasi, pengalaman, serta nilai-nilai kehidupan yang lahir dari proses belajar dan bertumbuh di lingkungan sekolah.
Pembina Gerakan Literasi Berkarya SMAS Al Ma’arif Cilegon, Nurul Afriyati, S.Pd., mengatakan bahwa Anemoon merupakan bukti bahwa keberanian untuk bermimpi, berpikir, dan menulis mampu melahirkan karya yang bermakna.
“Anemoon menjadi saksi bahwa literasi adalah perjalanan untuk menemukan suara, merawat gagasan, dan meninggalkan jejak kebaikan melalui kata-kata. Buku ini juga mengajarkan bahwa usia bukanlah batas untuk berkarya, dan sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat tumbuhnya penulis-penulis masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMAS Al Ma’arif Cilegon, Ani Neli, S.E., menuturkan bahwa buku tersebut bukan sekadar kumpulan cerita, melainkan rekam jejak perjalanan rasa, imajinasi, dan pemikiran para guru serta siswa dalam menghidupkan budaya literasi di sekolah.
“Di balik setiap halaman yang tersusun, tersimpan keberanian untuk bermimpi, ketekunan untuk belajar, dan ketulusan untuk berbagi makna. Guru menanamkan inspirasi, murid menumbuhkan kreativitas, lalu keduanya bertemu dalam sebuah karya yang menjadi bukti bahwa literasi mampu menjembatani generasi,” katanya.
Ketua Yayasan Pendidikan Ma’arif Cilegon, Dr. Ir. H. A. Sofan Ansor, M.Si., menilai kehadiran Anemoon sebagai bukti nyata bahwa budaya membaca dan menulis mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya akan rasa, imajinasi, dan karakter.
“Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang mentransfer ilmu, tetapi juga tentang menumbuhkan jiwa yang mampu berpikir, berkarya, dan memberi inspirasi. Melalui gerakan literasi sekolah, kita sedang menanam benih peradaban yang kelak tumbuh menjadi generasi yang berwawasan luas dan berkarakter kuat,” ungkapnya.
Apresiasi juga datang dari Pengawas SMA Kota Cilegon, Tutik Ambarwati, M.Pd., yang menilai Anemoon sebagai potret keberanian generasi muda dalam mengubah imajinasi menjadi karya.
“Membaca Anemoon membuat saya sadar bahwa tugas kita sebagai pendidik bukanlah memenuhi wadah yang kosong, melainkan menyalakan api kreativitas yang ada di dalam diri setiap anak. Antologi cerpen ini adalah potret keberanian generasi muda yang berhasil mengubah imajinasi menjadi sebuah warisan karya yang abadi,” tuturnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Suherman, S.T., M.M. atau yang dikenal dengan nama pena Leo Ikals, Duta Baca Provinsi Banten sekaligus Founder Kreator Merdeka. Ia mengapresiasi langkah SMAS Al Ma’arif Cilegon yang konsisten membangun budaya literasi hingga mampu melahirkan buku untuk tahun kedua berturut-turut.
Menurutnya, kehadiran Anemoon menjadi bukti bahwa sekolah memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga pencipta karya.
Peluncuran Anemoon menjadi momentum penting dalam memperkuat ekosistem literasi di lingkungan sekolah. Lebih dari sekadar buku, karya ini menjadi simbol kolaborasi antara guru dan siswa dalam merawat budaya membaca, menulis, dan berkarya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kehadiran Anemoon mengingatkan bahwa sebuah karya tulis tetap memiliki kekuatan untuk mengabadikan gagasan, menumbuhkan karakter, dan menginspirasi banyak orang. Sebagaimana harapan para penulis dan pendampingnya, buku ini diharapkan menjadi bunga literasi yang terus mekar serta menginspirasi lahirnya karya-karya baru di masa mendatang.